Jakarta – Dunia pendidikan Indonesia bersiap menghadapi revolusi pembelajaran! Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengumumkan akan menerapkan metode Deep Learning, pendekatan yang diklaim bisa membuat anak belajar lebih dalam, lebih bermakna, dan lebih menyenangkan.
“Ini masih proses berjalan, tapi kami ingin memastikan anak-anak tidak hanya menghafal, tapi benar-benar memahami dan menemukan makna dalam pembelajaran mereka,” ujar Mu’ti dalam Seminar Nasional dan Sosialisasi Program Deep Learning, Senin (17/2/2025).
Belajar Bukan Sekadar Menghafal!
Mu’ti menegaskan bahwa Deep Learning tidak akan berhasil jika materi pelajaran masih terlalu banyak dan berat. Menurutnya, siswa justru perlu fokus pada esensi dari ilmu yang mereka pelajari, bukan hanya mengejar nilai.
“Bukan tentang berapa banyak materi yang dikuasai, tapi bagaimana materi itu bisa membentuk pola pikir dan karakter anak,” ujarnya.
Metode ini mengandalkan tiga prinsip utama: mindful, meaningful, dan joyful. Artinya, anak-anak diajak untuk sadar penuh dalam belajar, memahami manfaat dari ilmu yang mereka dapatkan, dan menikmati prosesnya.
“Mindful berarti belajar dengan kesadaran penuh. Meaningful, supaya anak-anak tidak sekadar menghafal tapi memahami esensi ilmunya. Dan joyful, supaya mereka bisa menikmati proses belajar dengan lebih bahagia,” tambah Mu’ti.
Dampak Besar, Perubahan Dimulai dari Hal Kecil
Mu’ti juga menepis anggapan bahwa inovasi pendidikan harus selalu bersifat besar dan revolusioner. Menurutnya, perubahan bisa dimulai dari langkah kecil, misalnya membantu anak menemukan cara belajar yang sesuai dengan dirinya sendiri.
“Kita sering berpikir perubahan harus seperti Bandung Bondowoso, bikin candi dalam semalam. Padahal, perubahan itu bisa gradual dan bertahap. Hal kecil yang dilakukan bersama-sama justru akan berdampak besar,” ujarnya.
Program ini sejalan dengan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang digagas Kemendikdasmen. Salah satu contohnya adalah mengajarkan kebiasaan kecil sejak dini, seperti bangun pagi tanpa harus dibangunkan orang tua.
“Dulu banyak anak susah bangun pagi. Sekarang, dengan kebiasaan yang diterapkan sekolah, anak malah jadi yang membangunkan orang tuanya! Ini perubahan kecil, tapi maknanya besar,” kata Mu’ti.
Apa Langkah Selanjutnya?
Saat ini, Kemendikdasmen tengah mempersiapkan kurikulum dan pelatihan bagi guru untuk menerapkan metode Deep Learning secara efektif di sekolah-sekolah di Indonesia.
“Ini bukan sekadar konsep di atas kertas. Kami ingin memastikan guru-guru siap dan mampu menerapkan ini dengan baik, sehingga hasilnya benar-benar terasa bagi siswa,” pungkasnya.
Dengan penerapan metode Deep Learning, para orang tua dari generasi milenial dan Gen Z diharapkan tidak lagi khawatir anak mereka hanya menjadi mesin hafalan. Sebaliknya, anak-anak akan tumbuh sebagai individu yang berpikir kritis, kreatif, dan mampu menghadapi tantangan dunia modern.
Jadi, siap melihat perubahan di ruang kelas anak-anak Anda?
