You are currently viewing Saat Guru Belajar dari Muridnya: Perjalanan Juliawati Menemukan Disiplin Positif
Juliawati, guru SD Negeri 08 Sanggau, Kalimantan Barat. Foto: Yayasan Guru Belajar

Saat Guru Belajar dari Muridnya: Perjalanan Juliawati Menemukan Disiplin Positif

Sanggau – Di sebuah ruang kelas di Sanggau, Kalimantan Barat, Juliawati berdiri di depan murid-muridnya. Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, ia menghadapi tantangan yang sama—anak-anak yang tak mengerjakan tugas, bercanda saat pelajaran berlangsung, bahkan bermain kasar satu sama lain. Ia lelah, frustasi, dan merasa satu-satunya cara menegakkan disiplin adalah dengan hukuman.

Bertahun-tahun, ia menerapkan metode yang keras. Murid-murid yang melanggar aturan harus berdiri di depan kelas, membersihkan toilet, atau memungut sampah di halaman sekolah. Awalnya, ia berpikir ini adalah cara efektif untuk mengajarkan tanggung jawab. 

Namun, semakin lama, ia mulai melihat sesuatu yang mengganggu. Beberapa murid tampak takut padanya. Ada yang gemetar ketika diajak bicara, ada yang bahkan menangis sebelum sempat menjelaskan kesalahan mereka. Di saat itu, Juliawati mulai bertanya pada dirinya sendiri: apakah ini benar-benar cara terbaik?

Pertanyaan itu terus menghantuinya hingga ia berdiskusi dengan rekan-rekan sesama guru. Dari sana, ia mulai mengenal konsep disiplin positif—sebuah pendekatan yang tidak menekankan hukuman, melainkan membangun kesadaran anak untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Ia memutuskan untuk mencoba sesuatu yang berbeda.

Perubahan itu tidak mudah. Hari pertama ia mengajak murid-muridnya membuat kesepakatan kelas bersama, sebagian besar anak tampak bingung. Biasanya, aturan datang dari guru, dan mereka hanya mengikutinya. Tapi kali ini, Juliawati meminta mereka untuk menentukan sendiri nilai-nilai yang ingin diterapkan di kelas, termasuk konsekuensi jika ada yang melanggar. 

Saat satu per satu anak mulai menyampaikan pendapatnya, ia melihat sesuatu yang selama ini tak pernah ia sadari—mereka sebenarnya ingin didengar, ingin merasa memiliki tanggung jawab atas ruang belajar mereka sendiri.

Hari-hari berlalu, dan Juliawati mulai menerapkan pendekatan baru. Ia lebih sering memberikan pujian dibanding teguran, mengapresiasi usaha kecil murid-muridnya yang datang tepat waktu atau membantu teman mereka. Setiap pagi, ia membuka kelas dengan sesi “cerita hati”, di mana anak-anak bisa mengungkapkan perasaan mereka hari itu. Dengan cara ini, ia belajar memahami lebih dalam alasan di balik perilaku mereka.

Perubahan itu membuahkan hasil. Murid-muridnya mulai lebih disiplin tanpa perlu merasa takut. Mereka bukan hanya patuh karena takut dihukum, tapi karena benar-benar memahami alasan di balik aturan yang mereka buat sendiri. Kelas menjadi lebih tenang, hubungan antara guru dan murid lebih dekat. Dan bagi Juliawati, ini adalah kemenangan terbesar—bukan sekadar menciptakan anak-anak yang taat aturan, tapi anak-anak yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Upayanya pun mendapat pengakuan. Akhir tahun lalu, Juliawati menerima Ki Hajar Dewantara Award dari Guru Belajar Foundation, sebuah penghargaan bagi pendidik yang dengan penuh kesungguhan menerapkan pembelajaran yang berpihak pada anak. Baginya, ini bukan sekadar penghargaan, tetapi bukti bahwa guru juga harus terus belajar—belajar dari anak-anak mereka sendiri.

Leave a Reply